-

-
-

Selasa, 06 Desember 2016

Menata Hikmah dalam Nasihat




Jumat, 16 September 2016

Buletin Jumat : Nasihat dari Orang yang telah Kembali




Kamis, 01 September 2016

Menangani Anak yang Suka Berbohonh

  •  Semua orang berbohong. Saya pernah memberitahu suami saya, dengan tatapan penuh kejujuran, bahwa tidak, saya tidak mendapat smsnya yang meminta saya mengerjakan sesuatu untuknya. Dan dia juga pernah memberitahu saya bahwa tentu saja celana jeans saya tidak membuat saya terlihat gemuk.
    Dari orang yang paling taqwa sampai orang yang paling bejat, kita semua berbohong. Bahkan StatisticBrain.com mengatakan bahwa 60 persen orang-orang berbohong setidaknya sekali dalam percakapan 10 menit. Kita berbohong untuk menyelamatkan diri, untuk menghindari konfrontasi, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan terkadang hanya untuk bersikap baik.
    Jadi, tidak mengagetkan jika anak-anak kita juga berbohong. Lagi pula, mereka belajar itu dari kita.
    Tentu saja, itu tidak berarti berbohong dapat diterima. Sebagai orang tua, kita ingin mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi jujur. Bagaimana kita dapat melakukannya padahal berbohong tampak tidak dapat dihindarkan?
    Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperhatikan diri sendiri. Perhatikan ketika Anda tergoda untuk berbohong. Berusahalah untuk menemukan keberanian moral untuk menjadi lebih jujur. Jika Anda kedapatan berbohong di depan anak Anda, minta maaf. Biarkan dia tahu mengapa Anda berbohong, dan beritahu dia bahwa itu adalah sesuatu yang sedang Anda berusaha untuk hilangkan.
    Selanjutnya, memahami mengapa anak Anda berbohong dapat membantu Anda tahu cara menanganinya. Ada beberapa jenis berbohong.
  • Si pengkhayal

    Si pengkhayal punya imajinasi nyata dan punya bakat untuk menjadi pendongeng hebat. Dia terkadang berpikir ceritanya akan menjadi sedikit lebih baik jika dia membuatnya seolah-olah nyata.
    Tentu saja, Anda tidak ingin mematikan imajinasinya. Jadilah antusias tentang cerita-ceritanya, dan berikan pujian kepadanya atas imajinasinya dan kemampuan mendongengnya yang luar biasa. Dengan lembut beritahu dia bahwa Anda tahu ada yang dia lebih-lebihkan, dan itu tidak apa-apa. Biarkan dia tahu bahwa dia punya bakat hebat dalam menceritakan “cerita imajinasi” dan doronglah dia untuk terus berbagi dengan Anda. Dia mungkin akan merasa agak malu karena kedapatan berbohong, tetapi jangan mempermalukannya.
  • Si penghindar

    Si penghindar benci konfrontasi – terutama jika itu berarti dia mungkin akan kena masalah. Anak-anak akan sering berbohong untuk menghindari hukuman. Meskipun itu hal yang normal, kita ingin anak-anak kita mampu bertanggung jawab atas tindakan mereka.
    Perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini. Namun, jika Anda lebih berfokus pada disiplin berbasis konsekuensi, maka Anda dapat mengajarkan anak-anak bahwa mereka mampu mengatasi konsekuensi dari perilaku mereka. Berikan anak Anda konsekuensi atas kesalahannya, dan konsekuensi lain atas kebohongannya.
  • Si tak mau kalah

    Anda tahu siapa dia. Setiap kali ada yang punya cerita bagus, dia harus punya cerita yang lebih baik.
    Ketika suami saya masih remaja, dia punya teman yang selalu harus mengalahkan cerita orang lain. Suatu hari, suami saya memberitahu teman-temannya, “Perhatikan, saya akan bercerita tentang pengalaman memancing yang lucu, dan dia akan berkata ‘Oh ya? Itu belum apa-apa.’” Tentu saja, setelah suami saya mengakhiri ceritanya, temannya berkata, seolah-olah sesuai dengan aba-aba, “Oh ya? Itu belum apa-apa.” Dia tidak tahu mengapa semua temannya menertawakannya.
    Melebih-lebihkan cerita untuk mengesankan teman-teman biasanya tidak berakhir baik. Tidak hanya itu tidak jujur, tetapi itu dapat membuat anak Anda semakin tidak disukai.
    Untuk membantu anak Anda mengatasi kebohongan seperti ini, bangunlah rasa percaya dirinya dengan berfokus pada hal-hal yang dapat dia lakukan dengan baik. Pastikan untuk tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain. Ajarkan dia untuk berbahagia atas prestasi orang lain. Tunjukkan kepadanya bahwa tidak apa-apa jika ada teman yang lebih baik daripada dia dalam beberapa hal karena dia akan menjadi lebih baik daripada teman-temannya dalam hal-hal lain.
  • Si tukang pura-pura

    Si tukang pura-pura adalah ahli dalam berpura-pura sakit perut atau flu. Gejalanya biasanya timbul sesaat sebelum ujian sekolah atau peristiwa besar lainnya yang membuatnya takut.
    Pertama, cari tahu apakah ada alasan nyata untuk rasa takutnya. Apakah dia merasa terintimidasi? Anda mungkin perlu bertemu dengan gurunya untuk membahas cara-cara menghentikan intimidasi dan membantu anak Anda membela dirinya sendiri. Anda juga dapat meminta bantuan dari teman-teman anak Anda.
    Jika anak Anda tidak dalam bahaya nyata, ajarkan dia untuk mengatasi rasa takutnya. Berikan dia kesempatan untuk membangun rasa percaya diri dan mandiri di rumah. Berfokuslah pada hal-hal positif dari peristiwa yang dia takuti. Ingatkan dia tentang keberhasilannya di masa lalu ketika mengatasi rasa takut, dan betapa bangganya dia ketika dia mencapai keberhasilan itu. Biarkan dia tahu bahwa Anda percaya padanya dan akan selalu ada untuknya.
    Perhatikan juga diri dan perasaan Anda sendiri. Jika Anda mengkhawatirkan anak Anda, Anda mungkin secara tidak sadar menyampaikan kecemasan itu kepadanya. Anak Anda lebih kuat dan lebih tangguh daripada yang Anda pikirkan.
  • Si pemuas

    Si pemuas ingin membuat semua orang bahagia dan tidak ingin mengecewakan Anda.
    Ketika membesarkan seorang pemuas, hindari menyebutnya “baik” atau “buruk” berdasarkan perilakunya. Biarkan anak Anda membuat kesalahan. Beritahu dia bahwa semua orang melakukan kesalahan, dan itu adalah cara penting untuk belajar. Biarkan dia tahu bahwa Anda akan selalu mengasihinya tanpa syarat, dan bantulah dia belajar dari kesalahannya.
    Jadi, mungkin kita semua berbohong. Tetapi saya ingin berpikir bahwa kita semua sedang berusaha mengatasinya. Memahami anak Anda dan alasan mengapa dia berbohong akan membantu Anda mengatasinya bersama-sama.

    Sumber : https://keluarga.com/1/pengasuhan/cara-menangani-anak-yang-suka-berbohong

10 Tips Mendeteksi Seseorang Berbohong

Ilustrasi

Bohong.....
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin dibohongi, seiring berkembangnya jaman, pakar-pakar psikolong banyak menemukan cara-cara ampuh untuk mengetahui gerak gerik yang biasanya dilakukan oleh seorang pembual atau pembohong. Memang tidak mudah untuk mendeteksi mimik wajah seseorang, tetapi ada beberapa tanda yang bisa kamu amati jika dia itu sedang berbohong. Berikut adalah yang dapat dilakukan untuk mendeteksi seseorang itu sedang berbohong atau tidak.
1. Lihat Matanya
Mata melihat ke kiri atas, maka mengingat-ingat pengalaman terkait dengan pertanyaan anda. Mata melihat ke kanan atas, maka dia akan sedikit mengarang karena belum siap dengan jawabanya. Mata melihat ke kiri bawah, maka dia sedang mengambil fakta dari masa lalunya (jujur). Mata melihat ke kanan bawah, terhubung dengan perasaan seseorang, bukan sebuah rekayasan.
2. Lihat Dari Mimik Mukanya
Amati mimik wajah apakah pipinya merona, lubang hidung melebar, kebiasaan tiba-tiba menggigit bibir, bekedip cepat hingga menarik nafas dalam-dalam ketika berbicara. Kalau dia melakukan hal-hal tersebut biasanya itu tanda bahwa dia sedang mengatakan kebohongan kepada kamu.
3. Perhatikan Bahasa Tubuhnya
Kamu bisa mendeteksi apakah dia sedang berbohong atau tidak melalui bahasa tubuhnya. Namun, cara ini bisa dilakukan jika dia tidak sedang dalam keadaan ‘sibuk’. Pertama-tama, perhatikan tangannya. Jika dia meremas kedua tangannya waktu ngomong sama kamu atau mengelus wajah itu tanda bahwa dia sedang cemas atau sedang menutupi cerita yang sebenarnya.
Lalu, amati juga kakinya. Jika kakinya terlihat sering bergerak, mungkin dia tegang dan ingin segera mengakhiri topik yang sedang dia bicarakan (di mana topik ini biasanya mengandung kebohongan).
4. Lihat Cara Dia Tersenyum
Perhatikan dengan baik bagaimana si dia tersenyum ketika kalian membicarakan topik tertentu. Misalnya, awasi gerakan mulut dan mata ketika si dia tersenyum. Jika dia tersenyum lepas yang melibatkan seluruh organ wajah itu tanda kalau dia jujur. Tetapi kalau dia tersenyum menyeringai (seolah terpaksa) itu tanda bahwa dia sedang berbohong.
5. Cara Bicaranya
Para ahli menyarankan untuk melihat atau merasakan bagaimana pola napasnya ketika berbicara, apakah cepat atau lambat. Jika dia bicara terlalu cepat atau terlalu lambat, biasanya dia tidak sedang berkata jujur.
6. Terlalu Banyak Menyentuh Bagian Tubuh
Saat berbohong, biasanya ada perubahan perilaku yang dilakukan. Mulai dari nada bicara, postur dan gerakan tangan bisa berubah. Hal-hal sederhana seperti ini sering terjadi dan dilakukan untuk menutupi kebohongan dari cerita yang kamu dengarkan. Saat berbohong, dia juga biasanya akan sering menyentuh beberapa bagian tubuh tertentu seperti wajah, bibir, dan leher.
7. Membuang Wajah Ketika Ditanya
Wajar jika pertanyaan yang kamu berikan adalah pertanyaan sulit kemudian dia membuang wajah atau memalingkan muka. Namun, jika di pertanyaan sederhana saja dia menghindari tatapanmu, maka kamu perlu curiga. Karena jawaban yang akan diberikan oleh dia selanjutnya bisa jadi adalah jawaban yang tidak jujur.
8. Sifat Defensif
Saat kamu mengajukan pertanyaan, dia seolah sedang dihakimi dan dipojokkan. Padahal kamu hanya mengajukan pertanyaan biasa. Malah, kadang dia jadi melakukan sikap defensif dengan balik marah dan menuduh kamu terlalu curiga atau posesif.
9. Mengalihkan Pembicaraan
Ketika si dia berusaha mengalihkan pembicaraan secara halus dengan membicarakan topik lain, ada dua kemungkinan. Dia tidak tertarik atau dia sedang berbohong. Jika setelah bahasan lain dibicarakan dia menghela napas panjang, ini karena dia sudah lega karena nggak perlu lagi berbohong sama kamu.
10. Dengarkan Dengan Cermat Apa Yang Dibicarakan
Seseorang yang berbohong cenderung memakai kata-kata seperti “tapi”, “kecuali”, “sedangkan” karena proses berpikir yang rumit ketika berbohong. Dan juga biasanya mereka suka melakukan pengulangan. Si dia juga akan sering memakai kata “aku”, “punyaku”. Di dalam cerita yang dilontarkan oleh pembohong, kamu juga akan menemukan sedikit kata ganti pribadi.
Dan jangan sesekali menjudge orang bahwa dia berkata bohong, jujur atau tidaknya seseorang, itu adalah urusanya sama Tuhanya. Semoga tidak ada pertengkaran hebat setelah tips mendetektsi kebohongan ini publish. hehehe