Iklan

test

Jumat, 25 Januari 2013

Kisah Kesabaran Nabi Muhammad SAW (1)

Kesabaran Rasulullah SAW menghadapi pengemis Yahudi buta

Bilamana aku membaca kisah ini dan membandingkan diri ku dan keadaaan umat Islam sekarang, aku rasa, macam langit dan bumi, akhlak yang kita amalkan dan akhlak yang Baginda contohkan agar kita amal dan ikuti..
Bilakah agaknya kita mampu menjadikan akhlak Baginda sebagai 'guide line' kita menjalani kehidupan?

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong,
dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sehinggalah baginda  wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan
makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat  Rasulullah SAW yakni Abu Bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu," wahai Anakku, adakah kebiasaan
kekasihku yang belum aku kerjakan? "

Aisyah RA menjawab,"Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja"

"Apakah Itu?", tanya Abu Bakar RA.

"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana", kata Aisyah RA.

Maka keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar RA pun  mendatangi pengemis itu, lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?"

Abu Bakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."

"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," bantah si
pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,
setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW" . Air mata Abu Bakar tidak lagi  dapat di tahan-tahan dari bercucuran

Seketika itu juga pengemis  pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar
RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun,
ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia...."

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah
SAW? Atau adakah setidaknya niat untuk meneladani beliau?

Hari ini.. dimana-mana kita tidak lagi mengamalkan sikap bersabar dan memaafkan. kita dengan mudah melenting, marah dan menghukum. Mengata juga tidak lagi satu bebanan pada kita, apatah lagi membenci dan memandang hina kepada sesiapa saja yang tidak 'sebulu' dengan kita...

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus peratus, alangkah
baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. yang paling sukar.. sabar dan memaafkan..
tapi yang paling mudah.. cermin diri.. siapa aku berbanding Baginda yang terpilih.. sebagai kekasih Allah.. semulia-mulia manusia..tiada tolok bandingnya Baginda dengan sesiapa pun didunia ini....

Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Ya Rasulullah.. ampuni kami kerana masih gagal mengikuti sunnah Mu..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih buat pembaca, mudah-mudahan apa yang anda baca ada manfaatnya. Dengan senang hati, jika anda berkomentar pada tempat yang disediakan dengan bahasa yang santun..